Rabu, 06 Februari 2013

Ferenc Puskás

Ferenc Puskás

Ferenc Puskás  terlahir dengan nama Ferenc Purczeld pada tanggal 2 April 1927 di Bundapest dan di besarkan pada sebuah daerah pinggiran kota bernama Kispest. Ia merupakan Legenda Sepakbola dari Hongaria. Di masa nya, Puskas  menjadikan Hongaria menjadi tim yang sangat disegani. Ia mencetak 84 goal dari 85 pertandingan international bersama timnas Hongaria. Sempat Ia tampil mengenakan seragam timnas spanyol sebanyak  kali namun tidak mencetak satu pun gol. Di level klub Puskas mencetak total 514 goal dai 514 pertansingan di Liga Hongaria dan Liga Spanyol. Puskas pun menjadi salah satu dari 20 pemain terbaik abad ke -20 versi majalah World Soccer.

Karir Sepakbola
Puskas mengawali karir sepakbolanya bersama klub local di Liga Hongaria, Kispest AC dimana  sang ayah, Farenc Sr yang menjadi pelatih dan pernah membela klub tersebut. Pada 1949 Kispest AC diambil alih oleh Kementrian Pertahanan Hongaria dan mengganti nama klub tersebut menjadi Bundapest Honved. Bersama Bundapest Honved Puskas mengahantarkan klub tersebut menjadi juara Liga Hongaria sebanyak 5 kali. Ia pun mencatatkan diri sebagai Top Skor selama empat musim di Liga Hongaria, bahkan pada tahun 1948 Ia menjadi pencetak gol terbanyak eropa dari seluruh Liga-liga eropa dengan 50 gol. Pada tahun 1956 Puskas membawa Bundapet Honved ikut pada tournament Eropean Cup. Pada pertandingan pertama mereka bertemu Atletico Bilbao. Pada pertandingan tandang di Bilbao Honved  kalah 3-2, ketika pertandingan kandang akan di gelar di Bundapest, Revolusi Hongaria meletus yang membuat pertandingan harus di gelar di tempat lain. Akhirnya pertandingan kedua melawan Atletic Bilbao di gelar di Heysel Stadium, Brussels, Belgia yang berakhir sama kuat 3-3. Secara agregat Honved kalah 6-5 dan harus tersingkir.

Timnas
Puskas memulai debutnya di timnas Hongaria pada 20 August 1945 dengan mengalahkan Austria 5-2. Pada 1952 Puskas membawa Hongaria menjuarai Olimpiade cabang sepakbola dengan mengalahkan Yugoslavia 2-0 di partai Final yang di gelar di Helsinki, Swedia.
Pada tahun 1953 Puskas menjadikan Hongaria menjadi tim pertama di luar Negara-negara United Kingdom yang dapat mengalahkan timnas Inggris di Stadion Wembley, London. Pada Pertandingan Persahabatab tersebut yang dikenal dengan “Matches of The Century” dimana Hongaria menang dengan skor 6-3 atas Inggris. Pada pertemuan berikutnya melawan Inggris di Bundapest, Hongaria memukul Inggris dengan skor 7-1. Skor tersebut menjadi rekor kekalahan terbesar Inggris di ajang Internasional hingga kini. Pada dua pertandingannya melawan Inggris Puskas mencetak 2 gol. Banyak pengamat sepakbola pada masa itu mengatakan, dua pertandingan tersebut merupakan awal mula dari konsep permainan ”Total Football” yang 20 tahun kemudian dipopulerkan oleh Belanda.
Pada pagelaran Piala Dunia 1954, Puskas ikut membela Hongaria dengan total mencetak 4 goal dari 3 pertandingan. Dua gol Ia cetak ketika mengalahkan Korea Selatan pada babak pertama dengan skor 9-0, kemudia satu gol Ia cetak ketika mengalahkan Jerman Barat dengan skor 8-3. Pada pertandingan berikut ketika Hongaria melawan Brazil dan Uruguay, Puskas tidak dapat tampil dikarnakan Cidera. Ketika timnas Hongaria menghadapi Brazil, pada pertandingan yang disebut "Bettle Of Berne", Puskas terlibat kontroversi dengan seorang pemain dari Brasil Peinhero.
Pada pertandingan Final yang kembali mempertemukan Hongaria dengan Jerman Barat, Puskas membawa Hongaria unggul lebih dulu ketika pertandingan baru berjalan 6 menit, di tambah satu gol lagi dari rekannya, Czibor yang membuat Hongaria leading 2-0. Namun ketangguhan tim Jerman Barat perlahan namun pasti membawa mereka menyamakan kedudukan bahakan mengungguli dengan skor 3-2. Di menit-menit akhir pertandingan, suasana pertandingan menjadi semain ketat dan seru. Pada menit ke 87 Puskas mencetak gol yang akhirnya dianulir wasit yang menilai Puskas telah leih dahulu dalam keadaan Offside. Akhirnya rekor tidak terkalahkan Hongaria di patahkan oleh Jerman Barat dan Hongaria harus menerima hanya duduk sebagai Runner-Up.   

Karir di Spanyol      
Setelah Revolusi di Negaranya, Hongaria pada 1956 Puskas menolak untuk kembali ke Bundapest dan bersama beberapa rekan-rekannya seperti Czibor dan Koscis membawa beserta keluarganya bermigrasi dan mencari klub baru di Eropa Barat. Akibatnya penolakannya kembali ke Bundapest Puskas di kenaskan larangan bemain selama dua tahun di Eropa oleh UEFA. Larangan bermain tersebut, membuat AC Milan dan Juventus yang berniat membelinya membatalkan niatnya.
Setelah masa hukumannya Puskas berusaha untuk dapat bermain di Liga Itali, namun tidak ada klub yang tertarik mengingat usianya yang sudah menginjak usia 30an. Puskas pun sempat diisukan akan membela Manchester United, untuk menambal kekuatan tim yang ketika itu sedang compang-camping setelah tragedy jatuhnya pesawat di Munchen. Namun perarturan yang di tetapkan FA (Organisasi Sepakbola Inggris) yang mengharuskan pemain asing dapat menggunakan bahasa Inggris, membuat Puskas harus membuang mimpinya.

Beberapa bulan kemudian Puskas mendapatkan klub barunya Real Madrid yang bertabur bintang dan dihuni beberapa legenda Real Madrid seperti Alfredo Di Stefano, Francisco Gento, Raymond Kopa, Hector Rial, dan Jose Santamaria. Pada saat itu Puskas telah menginjak usia 31 tahun.
The Five Angel of Real MAdrid (From Left : Raymond Kopa, Hector Rial, Alfredo di Stefano, Ferenc Puskas, Francesco Gento )
 


Di musim pertamanya bersama Real Madrid Puskas membuat empat kali Hatrick. Pada Musim 1960-61 Puskas mencetak 4 Gol ketika melawan Elche FC dan membuat 5 gol di tahun berikutnya pada tim yang sama. Ketika melawan musuh bebuyutan Real Madrid, Barcelona. Puskas membuat dua kali Hatrick pada musim 1963, satu di Bernabeu  dan satu lagi di Camp Nou. Selama 8 musim membela Real Madrid Puskas mencetak 156 goal dari 180 laga La Liga (Liga Spanyol) dengan empat kali gelar El Pichichis (1960 dengan 26 goal, 1961 dengan 27 goal, 1963 dengan 26 goal dan 1964 dengan 20 goal). Ia pun membawa Real Madrid menjadi kampiun La Liga sebanyak 5 kali (1961-1965)

Di ajang Eropean Cup Puskas bermain di 39 laga dengan total 35 gol dan menhantarkan Real Madrid 3 kali juara (1959, 1960, 1966) dan dua kali Runner-Up (1962, 1964)

Membela Timnas Spanyol 
Pada tahun 1962 Puskas pertama kali bergabung membela timnas Spanyol. Total 4 pertandingan Ia jalani bersama timnas Spanyol 3 diantaranya pada ajang FIFA World Cup 1962. Namun tidak satu gol pun Ia cetak bersama timnas Spanyol.

Pensiun
Setelah  pensiun sebagai pemain pada 1967, Puskas beralih sebagai pelatih. Puskas melatih beberapa tim di Eropa, Amerika Utara, South America, Afrika, Asia, hingga Australia. Puncak karirnya sebagai pelatih Ia torehkan ketika membawa Pananthinaikos menjadi satu-satunya klub asal Yunani yang dapat menembus hingga babak Final Eropean Cup,  dimana timnya akhirnya dikalahkan 2-0 oleh AFC Ajax yang kala itu dibela oleh Legenda Sepakbola Belanda, Johan Cruijff





Akhir hidup hingga meninggal
Pada tahun 2006 Puskas didiagnosis megidap penyakit Alzheimer, Terakhir Puskas dirawat di Bundapest Hospital pada September 2006 dan kemudian meninggal pada tanggal 17 November 2006 pada usia 79 tahun. Ia meninggalkan seorang istri yang berusia 57 tahun, Erzsebet¸ dan seorang putri,  Aniko.  Jasadnya di semanyakan di Puskas Farenc Stadium (Stadion yang diubah nama menjadi namanya untuk menghormati jasa-jasanya). Lalu dibawa ke Heroes Square untuk acara penghormatan dan dimakamkan di St Stephen’s Basilika di Bundapest pada 9 December 2006.    


Daftar Penghargaan yang di torehkan Farenc Puskas :
Club
  • Budapest Honvéd,
    Hungarian League: 1949–50, 1950, 1952, 1954, 1955
  • Real Madrid,
    La Liga: 1960–61, 1961–62, 1962–63, 1963–64, 1964–65, Copa del Generalísimo: 1962, European Cup: 1959, 1960, 1966,
    Runners-up: 1962, 1964, Intercontinental Cup: 1960

Country
  • Hungary : Olympic Champions: 1952, Central European Champions: 1953,
    World Cup Runners-up: 1954, Balkan Cup: 1947

Individual
  • Central European International Cup: Top Scorer (10 Goals): 1954
  • Hungarian Top Goalscorer: 1947–48, 1949–50, 1950, 1953
  • World Soccer Player and European Player of the Year: 1953
  • European Player of the 20th century L'Equipe
  • Hungarian Player Hungarian of the 20th century[citation needed]
  • Hungarian Top Goalscorer of the 20th century
  • Silver Ball European Footballer of the Year France Football : 1960
  • Named in FIFA 100
  • European Cup Top Scorer (12 goals)(7 goals): 1960, 1964
  • Pichichi Trophy: 1959–60, 1960–61, 1962–63, 1963–64
  • Manager
  • Panathinaikos
  • Super League Greece: 1970–71, 1971–72
  • European Cup
  • Runners-Up: 1971
  • AEK Athens
  • Super League Greece: 1978–79
  • Sol de América
  • Paraguayan Primera División: 1986
  • South Melbourne Hellas
  • National Soccer League: 1990–91
  • NSL Cup: 1989–90
  • Dockerty Cup: 1989 and 1991  

Kiper Terbaik Sepanjang Masa

Lev Yashin

Lev Ivanovich Yashin pesepakbola asal Uni Soviet yang menempati posisi sebagai seorang Kiper atau Penjaga Gawang di dalam lapangan. Posisinya sebagai seorang Kiper menjadikannya sebagai seorang Legenda dan tercatat sebagai Kiper terbaik sepanjang sejarah sepakbola hingga kini. Yashin yang dilahirkan di Moscow pada 22 Oktober 1929 memiliki tubuh yang atketis, reflek penyelamatan bola yang mengagumkan, dan ide-ide cara penyelamatan yang luar biasa yang membuat para penonon berdecak kagum. Yashin pun terpilih sebagai penjaga Gawang terbaik di abad ke 20 oleh IFFHS.

Kehidupan dan Karir Sepakbola
Yashin terlahir di keluarga pekerja industri. Ketika  usia 12 tahun Perang Dunia ke-II meletus dan memaksanya untuk bekerja di sebuah pabrik militer di Moscow untuk  menyokong dan membantu kegiatan perang Uni Soviet. Di dalam pabrik tersebut Yashin diketahui bergabung di dalam tim sepakbolanya. Dari tim sepakbola di pabrik tersebut klub Dynamo Moscow melihat bakatnya dan mengundangnya untuk bergabung di dalam tim junior. Pada tahun 1950 Yashin baru menjalani debutnya di tim senior Dynamo Moscow pada pertandingan persahabatan, namun pada debut tersebut Yashin melakukan blunder ketika gagal menhalau bola hasil sapuan/tendangan kiper lawan yang menendang bola dari daerah permainannya yang langsung meluncur mulus masuk ke gawang Yashin. Sungguh sebuah debut yang mengecewakan baginya. Pada tahun tersebut Yashin hanya tampil sebanyak 2 pertandingan di liga dan tidak membela tim senipr hingga tahun 1953. Selama masa penantiannya untuk dipasang kembali sebagai pemain utama di tim senior Dynamo Moscow, Ia sempat bergabung sebagai kiper di tim Hockey Es Dynamo. Yashin pun sempat membawa tim Hockey Es Dynamo meraih juara pada 1953. Atas prestasinya tersebut akhirnya Ia diberi kesempatan untuk bermain di skuad utama kembali menggantikan peran Alexei ‘Tiger’ Khomich yang juga seorang penjaga gawang utama timnas Uni Soviet yang selama ini menjadi rival sekaligus mentornya.

(Berikut rekaman Aksi2 Lev Yashin)

Di masa-masa setelah itu,  karir Yashin terus menanjak bersama Dynamo Moscow hingga mengakhiri karirnya di klub tersebut pada 1971.  Yashin menghantarkan 5 juara dan 6 Runner-Up Liga Uni Soviet, dan 3 kali juara dan 1 kali Runner-Up Piala Uni Soviet.

Timnas

Pada tahun 1954 Yashin untuk pertama kalinya dipanggil untuk membela timnas Uni Soviet. Bersama timnas Uni Soviet, Yashin tercatat tampil sebanyak 78 kali bagi timnas. Bersama timnas,  Yashin berperan besar mengantarkan Uni Soviet menjuarai Olimpiade musim panas 1956 dan Piala Eropa 1960. Di ajang Piala Dunia Yashin diikutsertakan pada 4 penyelenggaraannya 1958, 1962, 1966, dan 1970. Namun pada PD 1970, Yashin hanya menjadi Kiper ketiga Uni Soviet dan asisten yang memberi masukan kepada pelatih.      

Pada Piala Dunianya yang pertama tahun 1958, Yashin tampil sangat memukau hingga dihentikan Brasil yang pada saat itu menjadi juara pada babak perempat final dengan skor 2-0. Karena penampilan memukaunya Yashin masuk dalam tim All-Star Piala Dunia 1958. Pada Piala Dunia 1962, Yashin kembali hanya mampu mengantarkan Uni Soviet hingga babak perempat final setelah dikalahkan tuan rumah Chili. Meski telah unggul 4-1 terlebih dahulu atas Chili di babak pertama, namun beberapa kesalahan dan kelengahan di buat Yashin sehingga Uni Soviet kalah. Akibat buruk penampilannya tersebut majalah olahraga L’quipe memprediksikan itu adalah akhir dari karirnya. Namun setahun selepas itu Yashin mementahkan prediksi tersebut dengan memenangkan Ballon d’Or dan membawa Uni Soviet ke penampilan terbaik di Piala Dunia 1966 dengan menduduki posisi ke-4. Yashin tercatat 4 kali tanding tanpa kebobolan dari 12 kali penampilannya di Piala Dunia


Akhir Karir
Lev Yashin tercatat sebagai satu-satunya kipper yang pernah meraih gelar European Football Player of The Year (1963) hingga kini. Ia pun di percaya berhasil menggagalkan lebih dari 150 tendangan pinalti di sepanjang karirnya.

Pada 1971 di Moskow, FIFA mengadakan Testimonial Match di Lenin Stadium dengan di hadiri 100.000 penonton dan bintang-bintang seperto Pele, Franz Beckenbeaur, dan Eusebio pada pertandingan perpisahan untuk menghormati prestasinya.

Setelah pensiun dari sepakbola Yashin menghabiskan waktunya selama 20 tahun sebagai administrasi di klub Dynamo Moskow.
Lev Yashin wafat pada 1990 karena komplikasi

(Berikut rekaman Aksi2 Lev Yashin) 

Statistik Yashin

  • bermain dalam 812 pertandingan resmi
  • membuat 150 kali penyelamatan pinalti sepanjang karir sepakbolanya
  • 326 kali masuk skuad utama Dynamo Moskow 
  • 78 kali membela Uni Soviet dengan hanya 70 kali kebobolan
  • 12 kali tampil di Piala Duniadengan 4 pertandingan tanpa kebo
  • 2 kali tampil di FIFA 'Best of the World XI' (1963-vs England,1968- vs Brazil)
  • FIFA testimonial match (1971)
  • Total 480 pertandingan tanpa kebobolan

Penghargaan

Dynamo Moscow

  • Soviet Cup
    • Champions: 1953, 1967, 1970
    • Runners-up: 1955

Dynamo Moscow ice hockey team

  • Soviet Cup champions: 1953

 Soviet Union

Individual

 

Andrid Wibawa Kemungkinan Hengkang

Andrid : "Manjemen belum menghubungi kok , saya belum di hubungi , cuma satu kali aja kemarin sampai sekarang belum di hubungi lagi ... Gak jelas , ya kemungkinan saya cari lembaran baru "

Andrid : " Udah saya pikir , saya ambil yang pasti aja buat masa depan saya , terus saya juga pengen buka lembaran baru ... Mumpung udah ada tawaran baru udah pasti , kenapa tidak saya ambil ! "

* Kalau seperti ini siapa yang disalahkan

¤ News Flash ¤

-Pemain PSS Musim lalu yang bermain di posisi gelandang yang berprofesi sebagai polisi dikabarkan telah mendapat ijin untuk mengikuti seleksi bersama tim PSS Sleman namun karena ibundanya sedang sakit dan sementara harus menjaga sang bunda
-Sponsor PSS yang bergerak pada produk minuman ternyata bukan Teh Kotak.

Wiwid Bantah Bawa Gerbong Ke Solo

Kepergian Widiyantoro ke Persis Solo yang berlaga di Divisi Utama LPIS berdampak terhadap PSS Sleman. Setelah Tri Handoko ikut latihan Persis, Andrid Wibawa menyusul. Kabarnya Andrid langsung menjalin deal dengan manajemen Persis. Kabar ini memunculkan dugaan kalau Widyantoro membawa gerbong pemain ke klub barunya. Namun Wiwid membantah kabar itu. Dia memastikan hengkangnya Andrid dan Handoko murni keinginan kedua pemain tersebut.‘’Sejak awal saya sudah berkomitmen untuk tidak membawa pemain PSS ke Solo. Meskipun sejatinya banyak yang mau ikut. Kami harus menjaga hubungan PSS dan para supporter. Kalau para pemain pilih ke Persis itu keinginan mereka,” tandasnya kemarin kemarin (5/2).Manajer Operasional Rumadi menyatakan sah-sah saja jika pemain pergi. Apalagi kini seluruh pemain belum ada yang terikat kontrak. Jangankan kontrak, deal saja belum sempat tercapai. Tidak ada hak manajemen nggondeli.“Kami memang tak bisa nggondeli. Tapi jujur kecewa juga,’’ jelasnya.

Sumber Radar Jogja

Selasa, 05 Februari 2013

Para Pemain Inti Mulai Tinggalkan PSS

TRIBUNJOGJA.COM , SLEMAN - Pascakedatangan pelatih anyar Yusak Sutanto, klub berjuluk laskar Elang Jawa (Elja) nampak terus meyakinkan diri untuk membentuk skuat baru. Latihan dalam rangka proses seleksi pemain, terus dilakukan seiring proses negosiasi kepada pemain.

Sayangnya, prahara sepertinya tengah menggelayut di kubu PSS saat ini. Beberapa pemain yang sebelumnya masuk dalam rekomendasi skuat inti akhirnya angkat kaki dari PSS Sleman.

Publik Sleman sempat tersentak kala striker PERSIS Solo, Ferry Anto merapat di Stadion Maguwoharjo kandang PSS Sleman. Selain itu Tri Handoko yang sempat menjadi buah bibir banyak pihak juga tampak mengikuti proses latihan bersama Anang Hadi dkk, termasuk Eks kiper PSIM Yogyakarta Agung Prasetyo.

Tak cukup itu saja, PSS sempat kedatangan pemain belakangnya musim lalu Patrick Domal yang tak lagi merumput bersama PSIR Rembang.

Sayangnya, ekspektasi banyak pihak atas kemungkinan bergabungnya Ferry Anto, Tri Handoko, Agung Prasetyo dan Patrick ke barisan PSS Sleman tiba-tiba saja sirna. Empat pemain sarat talenta itu, ternyata menghilang dan tak lagi ikut seleksi latihan sejak hari ini, Selasa (5/2/2013).

Tri Handoko, Patrick dan Ferry dikabarkan merapat ke Solo kandang PERSIS. Sementara Agung belum diketahui kabar terbaru hingga saat ini. Sempat muncul spekulasi jika Agung merumput bersama salah satu klub asal luar jawa. Hal cukup mengejutkan ketika gelandang PSS Andrid Wibawa dikabarkan juga mengikuti seleksi PERSIS Solo pada Selasa (5/2/2013) pagi.

Bahkan santer dikabarkan jika ia telah menemui kesepakatan dengan PERSIS. Kondisi ini, praktis membuat skuat PSS minim materi pemain lawas nan berkualitas. Pihak manajemen pun menanggapinya dengan bijak. "Perpindahan pemain adalah suatu hal yang wajar, toh mereka juga berstatus pemain bebas, jadi saya rasa tidak ada masalah berarti," terang Rumadi selaku Manajer PSS Sleman,Selasa (5/2/2013).

Sebagai solusi, pihak manajemen akan terus melakukan perburuan pemain. Opsi memakai pemain luar, sepertinya akan menjadi salah satu jalan keluar bagi tim. "Kita usahakan yang terbaik, semoga akan akan Andrid baru dan Tri Handoko baru di PSS," imbuh Rumadi.

= Yusak Mulai Paham Karakter Pemain PSS =

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pelatih Yusak Sutanto mengaku mulai bisa berdaptasi di klub yang baru saja ditanganinya, PSS Sleman. Ia, juga mengaku telah mulai memahami karakter dan kualitas para pemain yang dilatihnya.

Ditemui seusai memimpin latihan di Stadion Tridadi, Sleman, Selasa (5/2/2013), Yusak merasa cukup puas dengan materi pemain yang dilatihnya. Beberapa pemain, perlahan mulai bisa mengikuti dan menjalankan instruksi yang diberikanya.

"Hanya satu atau dua pemain yang dirasa masih terlambat mengikuti instruksi saya, tapi itu tidak jadi masalah karena saya baru saja melatih," terang Yusak.

Sayangnya, eks pelatih Persika Karawang itu masih buta dengan kondisi fisik tiaptiap pemain. Dalam waktu dekat, ia akan melakukan tes VO2 Max untuk mengetahui kualitas fisik pemain.

"Mungkin akhir minggu ini fisik pemain akan kita tes, ini juga untuk keperluan proses seleksi," imbuh Yusak.