Rabu, 06 Februari 2013

Michel Platini

Michel Platini

Michel Fancois Platini (lahir21 Juni 1955) adalah seorang legenda sepakbola dari prancis, ia juga merupakan mantan pelatih sepakbola, dan kini beliau menjabat sebagai President UEFA (Organisasi Sepakbola Eropa) sejak 2007.


Sepanjang karir sebagai pemain sepakbola profesional, Patini tercatat pernah membela klub Nancy, Saint-Etienne, dan Juventus. di timnas prancis Platini tercatat sebagai salah satu anggota timnas Prancis yang berhasil menjuarai Piala Eropa 1984, sebuah ternamen yang membuat dirinya terpilih menjadi pemain terbaik dan tampil sebagai pencetak gol terbanyak. Bersama timnas prancis Platini pernah ikut berpartisipasi 3 kali di turnamen Piala Dunia (1978, 1984, 1986), dengan tampil 2 kali sebagai semifinalis.

Di masa timnas Prancis, Platini bersama Alain Giresse, Luis Fernandez, dan Jean Tigana, dijuluki 'Carre Magique' (dari bahasa Prancis yang artinya 'persegi sihir'. Keempatnya merupakan pemain tengah yang sangat disegani sepanjang tahun 1980an.

Platini dikenal sebagai pengumpan dan pengeksekusi tendangan bebas yang handal. 


Bermain sebagai seorang gelandang serang, Platini memiliki catatan gol yang melebihi catatan gol striker. Sebagai contoh, catatan golnya pada putaran final Piala Eropa 1984, 9 gol yang ia torehkan, hingga kini belum ada yang dapat menyamai atau bahakan melewati catatan tersebut. Rekor tersebut hanya dapat didekati oleh Van Basten, Patrick Kluivert (Belanda), Alan Shearer (Inggris), Savo Milosevic (Yugoslavia), dan Milan Baros (Rep Ceko) yang masing-masing mencetak 5 gol dan kelima nya tercatat berposisi penyerang.

Di Timnas Prancis rekor 41 golnya baru dapat dilewati Thierry Henry pada tahun 2007.


Awal Karir
Bakat Platini mulai terpantau pada usia 16 tahun, dimana Platini tampil pada turnamen Coupe Gambardella ketika ia membela tim Joeuf junior. Pelatih tim junior Metz yang menjadi lawannya pada saat itu tertarik engan penampilannya, lalu merekomendasikannya untuk mengikuti seleksi timnya. Namun sayang kesempatan itu hilang karna Platini mendapat cidera pada saat itu. Pada kesempatan kedua untuk bergabung bersama tim favorit masa kecilnya, Metz. Platini kembali gagal, kali ini disebabkan hasil analisa kesehatan dari dokter yang menyatakan Platini memiliki gangguan pernapasan dan jantung lemah.

Setelah gagal di terima di tim junior Metz, Platini akhirnya di terima untuk bergabung dengan tim cadangan Nancy yang juga klub tempat ayahnya yang keturunan Itali pernah berkarir.

KarirBersama Nancy (1972 - 1979) 
Bersama tim cadangan Nancy, Platini dengan cepat berkembang dan membuat klubnya terkesan dengan penampilannya. Platini mencetak Hat-Trick pertamanya dalam pertandingan melawan tim cadangan Wittelsheim. Tak pelak atas penampilan-penampilannya yang berkesan, Platini dipromosikan ke tim utama.
Di tim utama Platini untuk pertama kalinya tampil sebagai pemain pengganti melawan Valenciennes. Platini tampil untuk pertama kalinya sebagai starter ketika melawan Nimes pada tanggal 3 Mei 1973.

Pada bulan maret 1974 Platini mengalami keunduran ketika ia dibekap cidera dalam
pertaningan di kandang OGC Nice. Platini tidak tidak dapat menyelesaikan sisa pertandingan pada musim tersebut hingga mengakibatkan ia tidak dapat membantu Nancy menghindari zona degradasi dari Ligue 1. Namun pada musim berikutnya Platini membanti Nancy promosi kembali ke divisi pertama. Platini menjadi pemain yang paling penting di timnya kala itu dengan catatan 17 gol, beberapa gol dicetaknya melalui tendangan bebas. Saint-Etienne yang kala itu tampil sebagai juara liga prancis pun tersingkir dari Piala Prancis akibat dua gol yang dilesakan oleh Platini. 

Sekembalinya Nancy ke Ligue 1 dibarengi dengan pemanggilan Platini untuk mengikutu program wajib militer yang diselenggarakan negaranya. Hal tersebut membuatnya jarang untuk mengikuti pertandingan bersama Nancy.

Selepas kewajiban militernya, penampilan Platini semakin maksimal dan terus mengundang decak kagum. Timnas Prancis pun tidak lupa mengundanya untuk berpartisipasi mengikuti ajang Olimpiade Montreal 1976.
Sebelum mengikuti ajang Piala Dunia pertamanya pada 1978 di Argentina, Platini memenangkan trofi besar pertama dalam karirnya. Tampil sebagai kapten Nancy, Platini berhasil berhasil mengalahkan Nice di partai final Piala Prancis.
Meski sering dibekap cidera, banyak klub yang berminat menggunakan jasanya, diantaranya Paris Saint-Germain dan Saint-Etienne. Setelah kontraknya hampir berakhir bersama Nancy pada 1979, akhirnya Platini memilih bergabung dengan Saint-Etienne. 
Karir Bersama Saint-Etienne (1979 - 1982)
Saint-Etienne  mengontrak Platini agar mereka dapat menobrak prestasi klub di ajang internasional. 
Meski sempat meraih hasil yang cukup baik di ajang Champions Cup (yang kini telah beganti nama menjadi UEFA Champions League), seperti menang 6-0 atas PSV pada musim 1979-80,dan menang 5-0 atas Hamburg SV di musim  berikutnya, Platini tidak mampu membawa Saint-Etienne melampaui prestasi klub tersebut yang sebelumnya sempat mencapai babak final pada tahun 1976.

Bersama Verts Les (julukan Saint-Etienne), Platini sempat menjuarai Liga Prancis pada tahun 1981, namun gagal dua kali di partai final Piala Prancis setelah dikalahkan Bastia (1981) dan Paris Saint-Germain (1982).
Karir Bersama Juventus (1982-1987)
Setelah dianggap kurang berhasil di Saint-Etienne, di tahun 1982 Platini bergabung engan klub Itali, Juventus. Bersama tim yang seebagian besar baru saja menjuarai Piala Dunia 1982. Platini sempat mengalami kendala penyesuaian diri di dalam tim pada awalnya. Hal tersebut ikut mempengaruhi penampilan Juventus di awal musim, media itali pun terus mengkritik dan menuntut penampilan yang lebih baik dari Platini untuk Juventus.
Nyaris putus asa, Platini pun diisukan akan meninggalkan itali pada liburan musim dingin di tahun pertamanya bersama Juventus. Perlahan namun pasti, Platini meningkatkan penampilannya, bersamaan dengan perubahan taktik yang dilakukan Juventus pada pertenghan musim. Platini pun akhirnya mampu membawa Juventus hingga partai final Piala Eropa di musim pertama nya, namun akhirnya kalah dari Hamburg SV di partai final. Sebagai hiburan kepada para supporter Platini berhasil membawa Juventus menjuarai Piala Italia.
Pada musi-musim berikutnya Platini tampil semakin baik hingga memenangkan berbagai gelar bersama Juventus (Juara Liga Itali 1984 dan 1986, Piala Winners Eropa pada tahun 1984, Piala Eropa 1985 dan Piala Intercontinental 1985).
Bersama Juventus Platini tercatat sebbgai pencetak gol terbanyak di Serie-A untuk tiga musim berturut-turut (1982 - 1985).  
Pada tahun 1984 dan 1985 Platini terpilih sebagai Player of The Year oleh majalah World Soccer.

Pada final Piala Eropa tahun 1985 dimana Platini tampil sebagai juara bersama Juventus, Ia pun sekaligus menjadi saksi sejarah tragedi Heysel yang pada pertandingan tersebut terjadi kerusuhan yang mengakibatkan 39 orang meninggal dan 600an orang lika-luka.

Setelah Piala Dunia 1986 di Meksiko, Platini menghabiskan satu musim lagi di Juventus sebelum pensiun dari sepakbola pada Juni 1987.

Internasional Karir
Setelah penampilan memukau Platini pada turnamen Coupe Gambardella, Platini dipanggil untuk pertama kalinya untuk menjadi anggota Timnas Junior Prancis. Debutnya tercatat pada tanggal 26 September 1973.
Di tim Junior Platini ikut memiliki andil ketika meloloskan Prancis ke babak utama Olimpiade Montreal, 1976. Pada pertemuan pertama babak kualifikasi Olimpiade melawan Rumania. Platini membawa Prancis yang bertindak sebagai tuan rumah, memenangi pertandingan dengan skor 4-0, dan seri 1-1 pada pertemuan kedua di kandang Rumania.

Penampilan apik Platini menggoda Pelatih Timnas Senior Prancis pada saat itu, Michel Hidalgo untuk memanggilnya. Platini pun kemudian menjalani debutnya di Timnas Senior ketika Prancis melawan Cekoslovakia pada sebuah pertandingan persahabatan.

Di Olimpiade musim panas Montreal, Kanada di tahun 1976. Platini membawa Prancis tampil memukau dengan mengalahkan Mexico dan Guatemala dengan skor masing-masing 4-0, lalu seri 1-1 melawan Israel. Menjadi juara Grup membawa Pranci lolos ke babak perempat final yang mengharuskan Platini menghadapi Jerman Barat. Pada perempat, Prancis tampil anti klimaks dengan hanya menyisakan 9 pemain ketika mengakhiri pertandingan dan hasil 4-0 untuk kemenangan Jerman Barat.

Piala Dunia
Total 3 kali Platini tercatat mengikuti turnamen Piala Dunia (1978, 1982, 1986). 
Pada Piala Dunia pertamanya Platini hanya mencetak 1 gol dan gagal meloloskan Prancis ke babak perdelapan final setelah gagal bersaing dengan juara grup Itali dan tuan rumah Argentina yang pada akhirnya memenangi turnamen Piala Dunia 1978.

Di Piala Dunia 1982 Platini dapat menunjukan kelas sebagai pemain bintang. Namun Prancis hanya mampu di bawa Platini hingga semifinal setelah dikalahkan Jerman Barat lewat adu pinalti

Di Piala Dunia 1986, Mexico sekali lagi Platini harus mengakui keunggulan Jerman Barat yang kembali mengalahkan Prancis di semifinal. Platini hanya mampu menempatkan Prancis di Juara ketiga setelah mengalahkan Belgia.

Setelah gagal di Piala Dunia 1986, Platini mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemain sepakbola pada 29 April 198.


Pasca Pensiun
Setelah pensiun sebagai pemain, pada 1 November 1988 Platini ditunjuk mengantikan Henri Michel yang gagal membawa Prancis masuk ke putaran final 1990 di Italia. Sebagai Pelatih baru Timnas Prancis, di targetkan untuk meloloskan Prancis ke putaran final Piala Eropa 1992. Di babak kualifikasi Piala eropa, Prancis di bawah komando Platini tampil tidak terkalahkan selama 8 pertaningan baik kandang maupun tandang. Namun ketika di putaran finalnya, Platini gagal membawa prancis untuk lolos ke babak delapan besar.

Jack Brown Pilih Inggris, Emil Audero Mulyadi Jadi Kiper Italia, Ada Apa Dengan Sepakbola Indonesia?

Emil Audero Mulyadi (kiri) dan Jack Brown (kanan)/Kabarr24
JAKARTA – Publik sepakbola tanah air kembali mendapat berita menggembirakan setelah pemain sepakbola keturunan Indonesia bernama Emil Audero Mulyadi berhasil menembus tim utama Juventus.
Meski tidak dibawa oleh pelatih Antonio Conte ke Juventus Stadium saat melawan Sampdoria hari Minggu (6/1) kemarin, sudah dipilih dan ikut berlatih bersama tim utama merupakan pengalaman berharga, apalagi usia Emil baru 15 tahun, sebuah usia yang panjang untuk ukuran penjaga gawang yang bisa mencapai 40 tahun.
Walau masih sulit ditebak apakah pria kelahiran Nusa Tenggara Barat ini bakal menggantikan Gianluigi Buffon di skuat utama, Emil digadang-gadang bakal mempunyai karir panjang dan sukses.
Selain Emil, Indonesia masih mempunyai banyak pemain berbakat lainnya, salahsatunya adalah Jack Brown. Bocah berusia 11 tahun ini mencuri perhatian masyarakat pecinta sepakbola Indonesia usai dirinya menjadi juara di The World Final Skill Test 2012 Manchester United Soccer Schools, di Old Trafford, dengan meraih skor tertinggi.
Tak tanggung-tanggung, dalam kompetisi itu Jack berhasil mengalahkan para pemain yang berusia 5 sampai 6 tahun diatasnya. Bocah berbadan mungil ini pun langsung diprediksi bisa menjadi pemain yang bisa sukses di Eropa, karena mempunyai kemampuan yang kumplit. Apalagi MU kerap mengorbitkan pemain dari akademinya macam generasi emas, David Beckham, Ryan Giggs dan Paul Scholes.
Kabar mengenai banyaknya pemain berbakat keturunan Indonesia ini pun langsung membuat publik pecinta sepakbola sumringah dan berharap dua anak muda ini mau membela Indonesia tercinta di masa depan dan mengangkat prestasi timnas PSSI yang kini sedang terpuruk.
Tapi apa lacur, kondisi iklim sepakbola Indonesia yang tidak harmonis membuat dua talenta berbakat ini akhirnya memilih membela negara orang. Emil Audero Mulyadi sudah didaulat menjadi kiper utama tim Italia usia 16 tahun dan telah menyatakan akan membela Italia di masa depan karena hanya mempunyai paspor Italia.
Setali tiga uang dengan Emil, Jack juga lebih memilih untuk mengenakan seragam tim nasional Inggris di masa mendatang. Dalam sebuah wawancara dengan salahsatu stasiun tv, Jack mengaku sudah bertekad membela The Three Lions.
Sayang memang jika Indonesia akhirnya kehilangan dua talenta berbakat yang kemampuannya sudah diakui raksasa Eropa macam MU dan Juve. Tapi apa mau dikata, bagaimana pemain muda ingin menetap di negara sendiri jika pengurus sepakbola di negeri ini saja masih berebut kekuasaan.
Dualisme organisasi antara PSSI dan KPSI yang tak kunjung usai dan pengelolaan liga yang masih kacau seperti gaji yang menunggak membuat para pemain muda lebih memilih hujan emas di negeri orang ketimbang hujan batu di negeri sendiri.
Jika saja para pengurus PSSI dan KPSI mau menemukan kata sepakat untuk membangun sepakbola dan memujudkan mimpi masyrakat Indonesia yang berjumlah 250 juta orang ini dengan menembus Piala Dunia 2022, maka bersatu harus mulai dari sekarang, bukan besok dan juga bukan nanti. (Kabar24/ad)

Just Fontaine

Just Fontaine

Just  Fontaine atau yang biasa dipanggil “Justo” dilahirkan di Marrakech, Maroko. Ayahnya adalah orang Maroko dan Ibunya berasal dari Spanyol.
Just Fontain adalah seorang legenda sepakbola yang pernah mencatatkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak di babak final Piala Dunia 1958 dengan mencetak 13 gol dari 6 penampilannya.
Prestasi tersebut mencatatkan dirinya sebagai pemegang rekor pencetak gol terbanyak dalam satu kompetisi Piala Dunia yang belum terpecahkan hingga kini dan berada di peringkat ke empat sebagai pencetak gol terbanyak di sepanjang turnamen Piala Dunia di bawah Ronaldo dari Brasil dengan 15 Gol (dengan 4 kali tampil di Piala Dunia), Gerd Muller dari Jerman (2 kali tampil di Piala Dunia), dan Mirosklav Klose juga dari Jerman (3 kali tampil di Piala Dunia) dengan 14 Gol. Meskipun Just Fontain tidak dapat membawa Prancis menjuarai Piala Dunia 1958, ia tetap dikenang selain karna 13 golnya, ia juga menjadi pemain kedua setelah Alcides Ghiggia yang selalu mencetak gol di setiap peertandingan pada sebuah pegelaran Piala Dunia
Karir klub
Fontain memulai karirnya sebagai pemain amatir bersama klub  USM Casablanca, dimana ia bermain sejak tahun 1950 hingga 1953. Kemudian pada tahun yang sama, salah satu klub yang bermain di Liga Prancis merekrutnya, Nice. Fontain membela Nice selama 3 tahun dengan torehan 44 gol sebelum klub Prancis lainnya merekrutnya, Stade Reims. Di klub barunya Fontain mencapai puncak karirnya, total 165 gol ia cetak dalam 200 pertandingannya membela Stade de Reims. Ia pun sempat merasakan dua kali Juara Liga pada tahun 1958 dan 1960.
Timnas
Berasama timnas Prancis, Fontain melakukan debutnya pada 17 Desember 1953 dengan mencetak Hattrick ke gawang Lexemburg. Selama 7 tahun membela timnas Prancis Fontain mencetak 30 gol dari 21 penampilnnya. Dan penampilannya yang paling diingat tentunya ketika Ia tampil di Piala Dunia 1958

Pensiun
Just Fontain mengakhiri karir sebagai pemain sepakbolanya pada usia yang masih relatif muda, 29 tahun setelah pertandingan terakhirnya pada juli 1962 membuat ia cidera parah. Keadian tersebut membuatnya mengambil keputusan untuk pensiun lebih awal.
Setelah pensiun Fontain sempat menangani timnas Prancis pada 1967. Sayang, dua kekalahan pada pertndingan resmi perdanannya membuatnya dari jabatan tersebut       

Pada Maret 2004 Fontain masuk dalam daftar 125 pemain sepakbola terbaik Dunia yang daftarnya dikeluarkan FIFA

Alfredo Di Stefano

Alfredo Di Stefano

Alfredo Di Stéfano Laulhé lahir 4 juli 1926 di Buenos Aires, Argentina dari keluarga Italia yang berimigrasi ke argentina. Alfredo seorang pesepakbola dengan posisi pemain depan yang pernah membela tiga negara : Argentina, kolombia, dan Spanyol karena pada saat itu FIFA belum menetapkan peraturan; mengenai seorang pemain sepakbola yang hanya dapat memperkuat satu negara seperti sekarang. Bersama tim Argentina Alfredo sempat membela tim Tango sebanyak 6 kali, bersama Kolombia Ia sempat bermain empat kali, dan bersama Spanyol Alfredo bermain sebanyak 31 kali. Namun Ia tidak pernah sekalipun bermain di putaran final Piala Dunia. Alfredo tercatat sebagai salah satu legenda sepakbola yang tidak pernah tampil di putaran final Piala Dunia

Piala Dunia
Pada penyelengaraan Piala Dunia 1950, Alfredo menolak bergabung membela timnas Argentina. Empat tahun kemudian Argentina tidak ikut berpatisipasi pada ajang Piala Dunia 1954. Pada kesempatan terakhirnya tampil di Piala Dunia bersama Argentina pada tahun 1958, Alfredo telah berganti kewarganegaraan Spanyol. Pada qualifikasi Piala Dunia 1958, Alfredo gagal membawa spanyol lolos ke babak utama. Di kesempatan berikutnya untuk ikut berpartisipasi di Piala Dunia 1962 bersama Spanyol, Alfredo berhasil meloloskan Spanyol ke babak utama. Namun sayang beberapa saat sebelum penyelenggaraan Alfredo dibekap cidera, yang membuatnya harus istirahat hingga penyelenggaraan Piala Dunia 1962 usai.


Awal Karir
Alfredo meniti karir sepakbola profesionalnya bersama River Plate di usia 17 tahun (1943). Bermain bersama River Plate Ia sempat menorehkan tinta emas dengan menjadi juara Primera Division (1945, 1947), top skor (1947), dan menempatkan River di posisi Runner-Up kejuaraan South American Club Championship (1948). Pada tahun 1949 Alfredo hijrah ke klub Kolombia, Millonarios. Selama empat tahun di Kolombia, Alfredo membawa klub Millonarios menjadi juara Colombian Championship selama empat tahun berturut-turut(1949-1953).

Prestasi di Kolombia mengundang Real Madrid untuk membeli Alfredo. Bersama Real Madrid Alfredo mencapai pencapaian puncak karir nya. Berpatner dengan Frec Puskas Ia menghantarkan Real Madrid menjadi Raja Eropa dengan menjuarai Europan Cup lima kali berturut-turut (1955/1956, 1956/1957, 1957/1958, 1958/1959, dan 1959/1960). Setelah mencetak 216 gol dari 282 penampilanya selama sebelas tahun bersama Real Madrid Alfredo pindah ke Espanyol selama dua tahun sebelum pensiun pada tahun 1966.

Alfredo bersama 5 tropi Piala Champion

Prestasi 'Alfredo Di Stefano' di Sepakbola sebagai pemain :

Timnas Argentina
  • Copa America : 1947
Club
  • Argentina Primera Division : 1945 , 1947 (River Plate)
  • Runner-Up South America Championship : 1948 (River Plate)
  • Colombian Championship : 1949, 1951,1952 (Millonarios)
  • Copa Colombia : 1953 (Millonarios)
  • Copa Bodas de Oro del Real Madrid : 1952 (Millonarios)
  • Pequena Copa del Munde de Clubs :1953 (Millonarios)
  • Spanish Primera Division : 1954,1955,1957,1958,1961,1962,1963,1964 ( Real Madrid ) 
  • Copa Del Rey : 1962 ( Real Madrid )
  • European Cup : 1955-56,1956-57,1957-58,1958-59, 1959-1960 ( Real Madrid )
  • Intercontinental Cup : 1960 ( Real Madrid )
  • Latin Cup : 1955, 1957 ( Real Madrid )
  • Pequena Copa del Munde de Clubs : 1956 ( Real Madrid )  
Prestasi Individu
  • Argentine League Top Skor  : 1947
  • Colombian League Top Skor :  1951, 1952
  • Pichichi Trophy :1954, 1956, 1957, 1958, 1959
  • Balon D'Or : 1957, 1959
  • European Cup Top Skor : 1958, 1962
  • Spanish Player (Athelete) of the year : 1957, 1958, 1960, 1964
  • FIFA 100

Prestasi 'Alfredo Di Stefano' di Sepakbola sebagai pelatih :
  • Argentine Primera Division : 1969 (Boca Juniors), 1981 (River Plate)
  • Spanish Primera Division : 1971 ( Valencia ),
  • Spanish Runner-Up Primera Division : 1972 ( VAlencia ), 1983, 1984 ( Real Madrid )
  • Runner - Up Copa Del Rey : 1971, 1972 (Valencia), 1983, 1984 (Real Madrid)
  • Runner - Up Copa De La Liga : 1983 ( Real Madrid )
  • European Winners Cup : 1980 ( Valencia )
  • Runner - Up Winners Cup : 1983 ( Real Madrid )
  • Super Copa De espana ( Real Madrid )
  • Segunda Division : 1987 ( Valencia )
 Pasca Pensiun
Setelah pensiun Di Stefano, tetap mengabdikan dirinya di dunia sepakbola. Ia menjadi pelatih beberapa tim sepakbola profesional. Tim-tim yang pernah di asuhnya antaralain :

Ferenc Puskás

Ferenc Puskás

Ferenc Puskás  terlahir dengan nama Ferenc Purczeld pada tanggal 2 April 1927 di Bundapest dan di besarkan pada sebuah daerah pinggiran kota bernama Kispest. Ia merupakan Legenda Sepakbola dari Hongaria. Di masa nya, Puskas  menjadikan Hongaria menjadi tim yang sangat disegani. Ia mencetak 84 goal dari 85 pertandingan international bersama timnas Hongaria. Sempat Ia tampil mengenakan seragam timnas spanyol sebanyak  kali namun tidak mencetak satu pun gol. Di level klub Puskas mencetak total 514 goal dai 514 pertansingan di Liga Hongaria dan Liga Spanyol. Puskas pun menjadi salah satu dari 20 pemain terbaik abad ke -20 versi majalah World Soccer.

Karir Sepakbola
Puskas mengawali karir sepakbolanya bersama klub local di Liga Hongaria, Kispest AC dimana  sang ayah, Farenc Sr yang menjadi pelatih dan pernah membela klub tersebut. Pada 1949 Kispest AC diambil alih oleh Kementrian Pertahanan Hongaria dan mengganti nama klub tersebut menjadi Bundapest Honved. Bersama Bundapest Honved Puskas mengahantarkan klub tersebut menjadi juara Liga Hongaria sebanyak 5 kali. Ia pun mencatatkan diri sebagai Top Skor selama empat musim di Liga Hongaria, bahkan pada tahun 1948 Ia menjadi pencetak gol terbanyak eropa dari seluruh Liga-liga eropa dengan 50 gol. Pada tahun 1956 Puskas membawa Bundapet Honved ikut pada tournament Eropean Cup. Pada pertandingan pertama mereka bertemu Atletico Bilbao. Pada pertandingan tandang di Bilbao Honved  kalah 3-2, ketika pertandingan kandang akan di gelar di Bundapest, Revolusi Hongaria meletus yang membuat pertandingan harus di gelar di tempat lain. Akhirnya pertandingan kedua melawan Atletic Bilbao di gelar di Heysel Stadium, Brussels, Belgia yang berakhir sama kuat 3-3. Secara agregat Honved kalah 6-5 dan harus tersingkir.

Timnas
Puskas memulai debutnya di timnas Hongaria pada 20 August 1945 dengan mengalahkan Austria 5-2. Pada 1952 Puskas membawa Hongaria menjuarai Olimpiade cabang sepakbola dengan mengalahkan Yugoslavia 2-0 di partai Final yang di gelar di Helsinki, Swedia.
Pada tahun 1953 Puskas menjadikan Hongaria menjadi tim pertama di luar Negara-negara United Kingdom yang dapat mengalahkan timnas Inggris di Stadion Wembley, London. Pada Pertandingan Persahabatab tersebut yang dikenal dengan “Matches of The Century” dimana Hongaria menang dengan skor 6-3 atas Inggris. Pada pertemuan berikutnya melawan Inggris di Bundapest, Hongaria memukul Inggris dengan skor 7-1. Skor tersebut menjadi rekor kekalahan terbesar Inggris di ajang Internasional hingga kini. Pada dua pertandingannya melawan Inggris Puskas mencetak 2 gol. Banyak pengamat sepakbola pada masa itu mengatakan, dua pertandingan tersebut merupakan awal mula dari konsep permainan ”Total Football” yang 20 tahun kemudian dipopulerkan oleh Belanda.
Pada pagelaran Piala Dunia 1954, Puskas ikut membela Hongaria dengan total mencetak 4 goal dari 3 pertandingan. Dua gol Ia cetak ketika mengalahkan Korea Selatan pada babak pertama dengan skor 9-0, kemudia satu gol Ia cetak ketika mengalahkan Jerman Barat dengan skor 8-3. Pada pertandingan berikut ketika Hongaria melawan Brazil dan Uruguay, Puskas tidak dapat tampil dikarnakan Cidera. Ketika timnas Hongaria menghadapi Brazil, pada pertandingan yang disebut "Bettle Of Berne", Puskas terlibat kontroversi dengan seorang pemain dari Brasil Peinhero.
Pada pertandingan Final yang kembali mempertemukan Hongaria dengan Jerman Barat, Puskas membawa Hongaria unggul lebih dulu ketika pertandingan baru berjalan 6 menit, di tambah satu gol lagi dari rekannya, Czibor yang membuat Hongaria leading 2-0. Namun ketangguhan tim Jerman Barat perlahan namun pasti membawa mereka menyamakan kedudukan bahakan mengungguli dengan skor 3-2. Di menit-menit akhir pertandingan, suasana pertandingan menjadi semain ketat dan seru. Pada menit ke 87 Puskas mencetak gol yang akhirnya dianulir wasit yang menilai Puskas telah leih dahulu dalam keadaan Offside. Akhirnya rekor tidak terkalahkan Hongaria di patahkan oleh Jerman Barat dan Hongaria harus menerima hanya duduk sebagai Runner-Up.   

Karir di Spanyol      
Setelah Revolusi di Negaranya, Hongaria pada 1956 Puskas menolak untuk kembali ke Bundapest dan bersama beberapa rekan-rekannya seperti Czibor dan Koscis membawa beserta keluarganya bermigrasi dan mencari klub baru di Eropa Barat. Akibatnya penolakannya kembali ke Bundapest Puskas di kenaskan larangan bemain selama dua tahun di Eropa oleh UEFA. Larangan bermain tersebut, membuat AC Milan dan Juventus yang berniat membelinya membatalkan niatnya.
Setelah masa hukumannya Puskas berusaha untuk dapat bermain di Liga Itali, namun tidak ada klub yang tertarik mengingat usianya yang sudah menginjak usia 30an. Puskas pun sempat diisukan akan membela Manchester United, untuk menambal kekuatan tim yang ketika itu sedang compang-camping setelah tragedy jatuhnya pesawat di Munchen. Namun perarturan yang di tetapkan FA (Organisasi Sepakbola Inggris) yang mengharuskan pemain asing dapat menggunakan bahasa Inggris, membuat Puskas harus membuang mimpinya.

Beberapa bulan kemudian Puskas mendapatkan klub barunya Real Madrid yang bertabur bintang dan dihuni beberapa legenda Real Madrid seperti Alfredo Di Stefano, Francisco Gento, Raymond Kopa, Hector Rial, dan Jose Santamaria. Pada saat itu Puskas telah menginjak usia 31 tahun.
The Five Angel of Real MAdrid (From Left : Raymond Kopa, Hector Rial, Alfredo di Stefano, Ferenc Puskas, Francesco Gento )
 


Di musim pertamanya bersama Real Madrid Puskas membuat empat kali Hatrick. Pada Musim 1960-61 Puskas mencetak 4 Gol ketika melawan Elche FC dan membuat 5 gol di tahun berikutnya pada tim yang sama. Ketika melawan musuh bebuyutan Real Madrid, Barcelona. Puskas membuat dua kali Hatrick pada musim 1963, satu di Bernabeu  dan satu lagi di Camp Nou. Selama 8 musim membela Real Madrid Puskas mencetak 156 goal dari 180 laga La Liga (Liga Spanyol) dengan empat kali gelar El Pichichis (1960 dengan 26 goal, 1961 dengan 27 goal, 1963 dengan 26 goal dan 1964 dengan 20 goal). Ia pun membawa Real Madrid menjadi kampiun La Liga sebanyak 5 kali (1961-1965)

Di ajang Eropean Cup Puskas bermain di 39 laga dengan total 35 gol dan menhantarkan Real Madrid 3 kali juara (1959, 1960, 1966) dan dua kali Runner-Up (1962, 1964)

Membela Timnas Spanyol 
Pada tahun 1962 Puskas pertama kali bergabung membela timnas Spanyol. Total 4 pertandingan Ia jalani bersama timnas Spanyol 3 diantaranya pada ajang FIFA World Cup 1962. Namun tidak satu gol pun Ia cetak bersama timnas Spanyol.

Pensiun
Setelah  pensiun sebagai pemain pada 1967, Puskas beralih sebagai pelatih. Puskas melatih beberapa tim di Eropa, Amerika Utara, South America, Afrika, Asia, hingga Australia. Puncak karirnya sebagai pelatih Ia torehkan ketika membawa Pananthinaikos menjadi satu-satunya klub asal Yunani yang dapat menembus hingga babak Final Eropean Cup,  dimana timnya akhirnya dikalahkan 2-0 oleh AFC Ajax yang kala itu dibela oleh Legenda Sepakbola Belanda, Johan Cruijff





Akhir hidup hingga meninggal
Pada tahun 2006 Puskas didiagnosis megidap penyakit Alzheimer, Terakhir Puskas dirawat di Bundapest Hospital pada September 2006 dan kemudian meninggal pada tanggal 17 November 2006 pada usia 79 tahun. Ia meninggalkan seorang istri yang berusia 57 tahun, Erzsebet¸ dan seorang putri,  Aniko.  Jasadnya di semanyakan di Puskas Farenc Stadium (Stadion yang diubah nama menjadi namanya untuk menghormati jasa-jasanya). Lalu dibawa ke Heroes Square untuk acara penghormatan dan dimakamkan di St Stephen’s Basilika di Bundapest pada 9 December 2006.    


Daftar Penghargaan yang di torehkan Farenc Puskas :
Club
  • Budapest Honvéd,
    Hungarian League: 1949–50, 1950, 1952, 1954, 1955
  • Real Madrid,
    La Liga: 1960–61, 1961–62, 1962–63, 1963–64, 1964–65, Copa del Generalísimo: 1962, European Cup: 1959, 1960, 1966,
    Runners-up: 1962, 1964, Intercontinental Cup: 1960

Country
  • Hungary : Olympic Champions: 1952, Central European Champions: 1953,
    World Cup Runners-up: 1954, Balkan Cup: 1947

Individual
  • Central European International Cup: Top Scorer (10 Goals): 1954
  • Hungarian Top Goalscorer: 1947–48, 1949–50, 1950, 1953
  • World Soccer Player and European Player of the Year: 1953
  • European Player of the 20th century L'Equipe
  • Hungarian Player Hungarian of the 20th century[citation needed]
  • Hungarian Top Goalscorer of the 20th century
  • Silver Ball European Footballer of the Year France Football : 1960
  • Named in FIFA 100
  • European Cup Top Scorer (12 goals)(7 goals): 1960, 1964
  • Pichichi Trophy: 1959–60, 1960–61, 1962–63, 1963–64
  • Manager
  • Panathinaikos
  • Super League Greece: 1970–71, 1971–72
  • European Cup
  • Runners-Up: 1971
  • AEK Athens
  • Super League Greece: 1978–79
  • Sol de América
  • Paraguayan Primera División: 1986
  • South Melbourne Hellas
  • National Soccer League: 1990–91
  • NSL Cup: 1989–90
  • Dockerty Cup: 1989 and 1991  

Kiper Terbaik Sepanjang Masa

Lev Yashin

Lev Ivanovich Yashin pesepakbola asal Uni Soviet yang menempati posisi sebagai seorang Kiper atau Penjaga Gawang di dalam lapangan. Posisinya sebagai seorang Kiper menjadikannya sebagai seorang Legenda dan tercatat sebagai Kiper terbaik sepanjang sejarah sepakbola hingga kini. Yashin yang dilahirkan di Moscow pada 22 Oktober 1929 memiliki tubuh yang atketis, reflek penyelamatan bola yang mengagumkan, dan ide-ide cara penyelamatan yang luar biasa yang membuat para penonon berdecak kagum. Yashin pun terpilih sebagai penjaga Gawang terbaik di abad ke 20 oleh IFFHS.

Kehidupan dan Karir Sepakbola
Yashin terlahir di keluarga pekerja industri. Ketika  usia 12 tahun Perang Dunia ke-II meletus dan memaksanya untuk bekerja di sebuah pabrik militer di Moscow untuk  menyokong dan membantu kegiatan perang Uni Soviet. Di dalam pabrik tersebut Yashin diketahui bergabung di dalam tim sepakbolanya. Dari tim sepakbola di pabrik tersebut klub Dynamo Moscow melihat bakatnya dan mengundangnya untuk bergabung di dalam tim junior. Pada tahun 1950 Yashin baru menjalani debutnya di tim senior Dynamo Moscow pada pertandingan persahabatan, namun pada debut tersebut Yashin melakukan blunder ketika gagal menhalau bola hasil sapuan/tendangan kiper lawan yang menendang bola dari daerah permainannya yang langsung meluncur mulus masuk ke gawang Yashin. Sungguh sebuah debut yang mengecewakan baginya. Pada tahun tersebut Yashin hanya tampil sebanyak 2 pertandingan di liga dan tidak membela tim senipr hingga tahun 1953. Selama masa penantiannya untuk dipasang kembali sebagai pemain utama di tim senior Dynamo Moscow, Ia sempat bergabung sebagai kiper di tim Hockey Es Dynamo. Yashin pun sempat membawa tim Hockey Es Dynamo meraih juara pada 1953. Atas prestasinya tersebut akhirnya Ia diberi kesempatan untuk bermain di skuad utama kembali menggantikan peran Alexei ‘Tiger’ Khomich yang juga seorang penjaga gawang utama timnas Uni Soviet yang selama ini menjadi rival sekaligus mentornya.

(Berikut rekaman Aksi2 Lev Yashin)

Di masa-masa setelah itu,  karir Yashin terus menanjak bersama Dynamo Moscow hingga mengakhiri karirnya di klub tersebut pada 1971.  Yashin menghantarkan 5 juara dan 6 Runner-Up Liga Uni Soviet, dan 3 kali juara dan 1 kali Runner-Up Piala Uni Soviet.

Timnas

Pada tahun 1954 Yashin untuk pertama kalinya dipanggil untuk membela timnas Uni Soviet. Bersama timnas Uni Soviet, Yashin tercatat tampil sebanyak 78 kali bagi timnas. Bersama timnas,  Yashin berperan besar mengantarkan Uni Soviet menjuarai Olimpiade musim panas 1956 dan Piala Eropa 1960. Di ajang Piala Dunia Yashin diikutsertakan pada 4 penyelenggaraannya 1958, 1962, 1966, dan 1970. Namun pada PD 1970, Yashin hanya menjadi Kiper ketiga Uni Soviet dan asisten yang memberi masukan kepada pelatih.      

Pada Piala Dunianya yang pertama tahun 1958, Yashin tampil sangat memukau hingga dihentikan Brasil yang pada saat itu menjadi juara pada babak perempat final dengan skor 2-0. Karena penampilan memukaunya Yashin masuk dalam tim All-Star Piala Dunia 1958. Pada Piala Dunia 1962, Yashin kembali hanya mampu mengantarkan Uni Soviet hingga babak perempat final setelah dikalahkan tuan rumah Chili. Meski telah unggul 4-1 terlebih dahulu atas Chili di babak pertama, namun beberapa kesalahan dan kelengahan di buat Yashin sehingga Uni Soviet kalah. Akibat buruk penampilannya tersebut majalah olahraga L’quipe memprediksikan itu adalah akhir dari karirnya. Namun setahun selepas itu Yashin mementahkan prediksi tersebut dengan memenangkan Ballon d’Or dan membawa Uni Soviet ke penampilan terbaik di Piala Dunia 1966 dengan menduduki posisi ke-4. Yashin tercatat 4 kali tanding tanpa kebobolan dari 12 kali penampilannya di Piala Dunia


Akhir Karir
Lev Yashin tercatat sebagai satu-satunya kipper yang pernah meraih gelar European Football Player of The Year (1963) hingga kini. Ia pun di percaya berhasil menggagalkan lebih dari 150 tendangan pinalti di sepanjang karirnya.

Pada 1971 di Moskow, FIFA mengadakan Testimonial Match di Lenin Stadium dengan di hadiri 100.000 penonton dan bintang-bintang seperto Pele, Franz Beckenbeaur, dan Eusebio pada pertandingan perpisahan untuk menghormati prestasinya.

Setelah pensiun dari sepakbola Yashin menghabiskan waktunya selama 20 tahun sebagai administrasi di klub Dynamo Moskow.
Lev Yashin wafat pada 1990 karena komplikasi

(Berikut rekaman Aksi2 Lev Yashin) 

Statistik Yashin

  • bermain dalam 812 pertandingan resmi
  • membuat 150 kali penyelamatan pinalti sepanjang karir sepakbolanya
  • 326 kali masuk skuad utama Dynamo Moskow 
  • 78 kali membela Uni Soviet dengan hanya 70 kali kebobolan
  • 12 kali tampil di Piala Duniadengan 4 pertandingan tanpa kebo
  • 2 kali tampil di FIFA 'Best of the World XI' (1963-vs England,1968- vs Brazil)
  • FIFA testimonial match (1971)
  • Total 480 pertandingan tanpa kebobolan

Penghargaan

Dynamo Moscow

  • Soviet Cup
    • Champions: 1953, 1967, 1970
    • Runners-up: 1955

Dynamo Moscow ice hockey team

  • Soviet Cup champions: 1953

 Soviet Union

Individual

 

Andrid Wibawa Kemungkinan Hengkang

Andrid : "Manjemen belum menghubungi kok , saya belum di hubungi , cuma satu kali aja kemarin sampai sekarang belum di hubungi lagi ... Gak jelas , ya kemungkinan saya cari lembaran baru "

Andrid : " Udah saya pikir , saya ambil yang pasti aja buat masa depan saya , terus saya juga pengen buka lembaran baru ... Mumpung udah ada tawaran baru udah pasti , kenapa tidak saya ambil ! "

* Kalau seperti ini siapa yang disalahkan